Hello (안녕)

RTdejrjT9                “ku rasa kau menyukainya.” ujar pria berkulit susu itu dengan tampang sok serius. membuat alicia han membulatkan mata nya, shock.

“ku rasa aku salah dengar.” alicia han mengalihkan pandangannya. dan bertingkah seolah telinganya tuli mendadak, kemudian ia harus membuatnya berfungsi lagi dengan memukul pelan telinganya dengan kepalan tinju yang sudah di tiup sebelumnya. “bisa kau ulang?”

“ku rasa kau menyukainya, alicia-ssi.” pria itu menghembuskan nafas. jengkel dengan gadis di hadapannya itu.

“bagaimana mungkin? dari mana kau tau? siapa yang mengatakannya?”

“kau bilang ada yang aneh dengan hati mu kan? seperti ada sedikit rasa geli di hati mu saat dia mendekat. juga rasa ngilu saat ia dengan gadis lain, kan?”

“ya.” alice mengangguk lemah.

“belum cukup? masih ada hal lain. kau bilang…”

“bagaimana mungkin? eomma~, apa yang harus ku lakukan?”

“tak ada yang tak mungkin. menyukai seseorang adalah hal yang bagus. lagi pula kenapa panik sekali? ini bahkan bukan yang pertama kalinya. bukan kah dulu kau juga suka hyung ku? cih~ dasar wanita!”

“kau berbohong kan?” gadis itu mengacuhkan ejekan pria di hadapannya. terlalu khawatir.

“yak! bodoh. kau bertanya pada ku dan aku menjawab mu. aku bahkan melewatkan jam makan siang ku demi pertanyaan konyol mu itu. ya tuhan, apa yang sudah ku lakukan?! lain kali jangan memelas di hadapan ku!”

“maaf kan aku.”

“cih~.” pria itu mendecak. sedikit merasa kasian dengan sahabat nya itu. tapi, oh ayolah. ini hanyalah tentang rasa suka. dan itu hal yang akan, sedang dan sudah di alami seluruh remaja di dunia! apa dia sebodoh itu?!

“se-sejak kapan?” ujar pria itu dengan nada gusar. entah lah. rasa nya ia sedikit tak menyukai topik ini. tapi juga penasaran. ah~ dia sendiri kacau. jadi bagaimana cara menghadapi orang kacau, saat dirimu sendiri kacau? masalahnya malah akan tambah kacau.

“aku tak tau pastinya kapan. mungkin baru baru ini. atau mungkin sudah lama? entah lah.”

“lalu… siapa pria itu?”

“aku bercerita padamu karna aku percaya kau bisa membantu ku mengatasi masalah ku. tapi sayangnya aku tak percaya kau akan menjaga rahasia ku.”

“jadi kau tak akan memberi tahu ku?”

“tidak.”

“ya!”

“apa?!”

“kau jahat!”

“terserah mu.”

“kau pelit.”

“aku tak peduli.”

“egois.”

“mm-hmm.”

“kau jelek. menjengkelkan!”

“terimakasih.”

“yaaaaa!”

“apaaa?!”

“kau benar benar tak akan memberitahu ku? kau tak percaya pada ku?” pria itu bangkit dari kursi taman tempat mereka duduk dengan wajah semerah tomat. benar benar kesal dengan gadis di hadapannya. apa selama ini hanya ia yang mempercayai bualan tentang persahabatan dan saling percaya? pria itu bahkan bercerita tentang gadis yang di kaguminya!

alice menunduk. menggigit bibir bawahnya yang gemetar menahan rasa aneh yang menggelitiknya. lagi. ngilu itu datang lagi.

“baiklah. terimakasih alicia han. ku kira kita bersahabat.” ujar pria itu dingin dan tajam. lalu ia membalik badannya. beberapa langkah saja. sampai ia mendengar gadis tadi memanggil namanya.

“ya! itu nama orang yang ku maksud. kau puas. itu KAU, BODOH!”

***

“han yoo ra~ tunggu aku.” teriak seorang gadis di ujung koridor. membuat suluruh perhatian orang orang yang juga berada di sana tertuju padanya. ia jadi merasa sedikit malu. tapi bukan karna mendapat perhatian akibat aksi konyolnya, melainkan karna yang di panggil sama sekali tak menggubris.

“yak! alicia han!” teriaknya lagi. dan semua mata tertuju padanya, lagi.

“kau memanggil ku?” alice berhenti. menunggu ri-ah yang sedang berjalan dengan langkah besar ke arahnya. gadis bodoh ini~ suka sekali cari perhatian. batinnya prihatin.

“aw~ sakit.” alice mengernyit merasakan geli yang menjengkel kan akibat serangan cubitan di perutnya. “ri-ah~ya, hentikan.”

ri-ah terdiam. merasa aneh dengan teman sebangku nya ini.

“kau kenapa? apa tadi pagi yoo jin oppa menghabiskan setengah gelas susu strawberry mu?” gurau ri-ah membuat alice terkikik pelan.

“kau punya masalah?”

“sedikit.”

“kau boleh bercerita.”

“disini?!” ujar alice mengingat kan ri-ah bahwa mereka masih di koridor sekolah.

“kita akan pulang besok pagi, kalau begitu. sambil berjalan, boleh.”

alice tersenyum. kemudian melingkarkan lengan nya pada lengan ri-ah. menyeretnya untuk segera berjalan.

“ku rasa aku menyukai seseorang. dan kurasa aku sudah membuat pengakuan.”

“benarkah? bukan kah itu hal bagus?”

“sehun juga berfikir sama.”

“pria seputih vampire itu. kau bercerita padanya?”

“tidak seputih itu. ia sahabat ku. dan aku percaya padanya. tapi, saat ini dia marah pada ku karna beranggapan kalau aku tak mempercayainya.” alice tampak berfikir. mengatakan hal selanjutnya atau tidak. dan memutuskan kata ‘tidak’ sebagai jawaban. kemudian beralih melihat dahi ri-ah yang berkerut. dan menunggunya bertanya.

“kenapa begitu?”

“karna aku tak memberitahunya siapa pria itu.”

“itu hak mu.”

“mungkin ia merasa dikhianati. ia selalu bercerita pada ku tentang gadis yang ia suka.” ngilu itu datang lagi. bersamaan dengan datangnya bayangan sesosok gadis kurus-tinggi-berwajah cantik kesukaan sahabatnya itu.

“kalau begitu aku setuju dengan sikapnya. kau egois.”

“dia juga berkata demikian.”

“kalau begitu kau memang benar benar egois!”

“ya! aku juga punya alasan!” alice menghentakkan kakinya, merasa tak terima dengan huajatan kejam dari dua temannya.

“jelaskan padaku.” ujar ri-ah santai. kemudian melanjutkan jalannya yang tadi sempat terhenti akibat shock melihat alice menghentak-hentakkan kakinya.

“aish~” alice mengacak acak rambutnya gusar. sekolah sudah sepi. jadi rasanya tak masalah kalau sedikit berantakkan.

“tadi aku sudah bilangkan kalau ku rasa aku sudah membuat pengakuan?”

“mungkin. entahlah, aku tak yakin.”

“itu terjadi saat sehun marah karna aku tak memberi tahunya siapa orang yang ku maksud!”

ri-ah terdiam. mencoba mencerna maksud alice. ia kemudian membulatkan matanya saat menyadari maksud gadis di hadapannya itu.

“ja-jadi pria yang kau maksud…”

“oh sehun, sahabat ku.”

***

Alice’s pov

Aku menutup kumpulan kertas setebal kotak sepatu itu. Dan mematikan lampu kecil di sudut meja. Pandangan ku tertuju pada gambar donat raksasa yang di duduki oleh seorang gadis kecil. Animasi itu di buat kan sehun untukku, ia sangat tau kalau aku memang penggila kue bundar itu.

Aku tersenyum, teringat janji ‘sehun kecil’ akan membelikan ku donat sebesar itu jika ia bisa mendapat hal yang paling diinginkannya. Dulu aku sangat berharap hal itu akan segera terwujud. Tapi, sekarang tak tagi. Tidak setelah beberapa minggu yang lalu ia mengatakan bahwa tujuan hidupnya berubah. Cita citanya berubah menjadi keinginan konyol dan buta, ‘menjadi suami min-ah’. Si gadis kurus-tinggi-berwajah cantik.

Sejak hari itu, aku benar benar berhenti berdoa untuk nya. aku tak begitu yakin kenapa aku tak lagi melakukannya, ku rasa karna impian itu terlalu konyol. Atau karna hal lain.

Hingga kemarin, ia menyadarkan ku. Bahwa itu adalah karna rasa suka. Dan aku menyimpulkan sendiri itu yang di namakan cemburu.

Mungkin. Bisa jadi. Aku tak akan menyangkalnya.

Fikiran ku melayang pada hari itu, ketika aku dengan tolol nya bercerita pada sehun dan berakhir dengan pertengkaran. Ia mengatai ku bodoh karna terlalu panik? Cih~ bagaimana mungkin aku tak panik saat tau bahwa aku menyukai orang yang menyukai orang lain? Apa lagi aku tau siapa gadis itu. Dan hal itu di perparah dengan status nya sebagai sahabat sendiri. Haaah~ aku pusing.

Aku menyudahi fikiran bodoh ku dengan mengambil gunting kuku di laci meja belajar. Kemudian berjalan ke balkon dan duduk di kursi panjang favoritku.

Sejenak menatap indahnya kombinasi warna malam yang di padu jingga lampu jalan. Aku mengidolai biasan jingga pada jalanan itu. Melihatnya sungguh menenangkan. Biasanya jika kami tak punya kegiatan, sehun sering menemaniku duduk disini. Ia tak ikut menyukainya tentu saja. Paling ia hanya akan berkutat dengan ponselnya, dan aku tak mau terlalu peduli tentang itu.

“kau bisa menggunting kuku di tangan kanan mu sendiri?”

“aah~ kau mengejutkan ku.” Ujar ku cemberut. Ia terkikik dan kemudian duduk di samping ku.

“kau tak bisa melakukan ini sendirian.” Ujarnya dan mengambil gunting kuku tadi dari tangan kiri ku. “tangan mu. Kemarikan.”

Dia kenapa? “kau mau apa?”

“aku merindukan sahabat ku.”

Aku tercekat. Kerongkongan ku terasa perih. Dan hati ku rasanya seperti di remuk. Sakit sekali. Aku merasakan mata ku mulai memanas karna desakkan air mata yang hendak keluar.

“ku kira, kau tak lagi menganggap ku demikian.”

***

“aku merindukan sahabat ku.”

Sehun mengepalkan tangannya. Menahan rasa sakit yang menjalar menuju ulu hatinya.

“ku kira, kau tak lagi menganggap ku demikian.”

Pria itu terdiam. Kemudian mengambil tangan kanan gadis di hadapannya itu dan menguncinya dalam genggamannya.

“kau mau aku mulai dari mana? Kelingking? Atau ibu jari?”

“lupakan.” alice menarik tangannya kasar. Tapi sehun menariknya lagi.

“maafkan aku.”

“tidak. Jika ini tentang hari itu maka kau tak salah. Maaf kan aku, untuk menjadi egois, dan menjadi sahabat yang buruk. Anggap saja itu seperti aku sedang kentut. Oke.”

“ri-ah mengatakan kau sudah menyukai ku cukup lama.”

“dia mengatakan bualan seperti itu? Tidak sehun~ah. Aku masih bisa menghilangkan perasaan ini, jadi ku mohon jangan bahas lagi, ya.”

“kenapa aku… merasa sedih ya.”

Gadis itu mengerutkan dahinya. Maksud pria ini, apa?

“kemarin aku pergi karna terlalu bingung. Aku bodoh sekali berpura pura tak mengerti. Dan maafkan aku untuk hal itu, juga beberapa hari terakhir. Aku sibuk berfikir mengenai banyak hal.

“aku sudah lebih dulu menyukaimu, jauh sebelum kau menyukai hyung ku. Aku diam karna aku takut kehilangan mu sebagai sahabat. Aku juga terlalu takut tentang penilaian keluarga ku. Tapi aku tak lagi peduli.” Alice mendongak. Menatap sehun tak percaya. Jadi, orang bodoh disini adalah dia?

“jadi, mari kita anggap hal yang terjadi kemarin adalah kau yang sedang terkentut. Bau. Dan hilang. Hari ini, aku mengaku padamu bukan sebagai oh sehun teman kecil mu. Tapi oh sehun teman satu sekolah mu, hm?”

Alice masih menatap sehun. Mata besarnya terasa perih, tampak dari urat urat mata nya yang mulai memerah. Dan begitu saja, air mata yang di tahannya lolos. Membanjiri pipinya tanpa ampun.

Sehun mengangkat tangannya, menyeka cairan itu dengan ibu jarinya. Kemudian tersenyum.

“hallo. Namamu Han Yoo Ra kan? Atau Alicia Han? Nama ku Oh Sehun. Aku sudah mendengar banyak tentang mu. Dan seringkali memperhatikan mu. Aku menyukai mu. Apa Kau keberatan jadi gadis ku?”

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s